You are currently viewing Gingseng Bukan Sekadar Penambah Stamina

Gingseng Bukan Sekadar Penambah Stamina

  • Post author:
  • Post category:Herbal

Selama ribuan tahun, Panax ginseng telah dikenal sebagai akar ajaib dalam pengobatan tradisional, identik dengan kemampuannya untuk meningkatkan energi dan stamina. Banyak orang mengonsumsinya untuk melawan kelelahan atau meningkatkan performa fisik. Namun, di balik reputasi populernya, penelitian modern mulai mengungkap fakta-fakta yang jauh lebih mengejutkan dan berdampak tentang cara kerja serta manfaat akar legendaris ini.

Sains tidak hanya memvalidasi penggunaan kuno ginseng, tetapi juga menemukan mekanisme biologis yang kompleks dan tak terduga di baliknya. Artikel ini akan membahas beberapa temuan paling menakjubkan dari dunia sains mengenai Panax ginseng, yang membuktikan bahwa kekuatannya jauh melampaui sekadar penambah energi.

Namanya Secara Harfiah Berarti ‘Penyembuh Segalanya’—Dan Ada Alasan Ilmiahnya

Nama genus ginseng, Panax, bukanlah kebetulan. Nama ini berasal dari gabungan kata Yunani ‘pan’ yang berarti “semua” dan ‘axos’ yang berarti “mengobati”. Secara kolektif, Panax berarti “mengobati semua penyakit” atau “panacea”, mencerminkan reputasinya sebagai obat untuk segala kondisi.

Menariknya, nama kuno ini selaras dengan konsep ilmiah modern yang disebut “adaptogen”. Adaptogen adalah zat yang membantu tubuh memiliki “resistensi nonspesifik terhadap pemicu stres biokimia dan fisik.” Dengan kata lain, alih-alih menargetkan satu penyakit spesifik, ginseng bekerja dengan meningkatkan ketahanan tubuh secara keseluruhan terhadap berbagai jenis stres, baik fisik maupun mental.

Di dunia modern di mana stres kronis menjadi masalah umum, konsep adaptogen ini menjadi sangat relevan. Kemampuan ginseng untuk mendukung ketahanan tubuh secara holistik—bukan hanya mengatasi satu gejala—menjelaskan mengapa ia telah dihormati sebagai “penyembuh segalanya” selama berabad-abad.

Kekuatan Ginseng Ternyata Bergantung pada Bakteri Usus Anda

Salah satu penemuan paling mengejutkan adalah bahwa senyawa aktif utama dalam ginseng, yang dikenal sebagai ginsenosides, tidak langsung aktif saat kita mengonsumsinya. Manfaat penuh dari akar ini baru bisa terbuka berkat bantuan penghuni tak terlihat di dalam tubuh kita: bakteri usus.

Penelitian menunjukkan bahwa ginsenosides perlu diaktifkan atau diubah oleh bakteri usus melalui proses yang disebut deglikosilasi dan esterifikasi. Ini berarti efektivitas ginseng yang Anda rasakan sangat dipengaruhi oleh komposisi unik mikrobioma usus Anda. Dua orang yang mengonsumsi ginseng dalam dosis yang sama bisa mendapatkan efek yang berbeda tergantung pada kesehatan usus mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif ginseng, yaitu ginsenosides, diaktifkan oleh bakteri usus. Setelah diubah menjadi metabolit seperti protopanaxadiol dan protopanaxatriol glycosides, barulah senyawa ini dapat diserap oleh darah dan getah bening untuk diangkut ke jaringan target di seluruh tubuh.

Temuan ini sangat menarik karena menghubungkan kebijaksanaan pengobatan kuno dengan salah satu bidang penelitian kesehatan paling mutakhir saat ini: mikrobioma usus. Ternyata, ramuan berusia ribuan tahun ini bekerja dalam kemitraan dengan ekosistem mikroba di dalam tubuh kita.

Lebih dari Sekadar Mitos: Hubungan Ginseng dengan Penurunan Risiko Kanker

Meskipun harus disampaikan dengan hati-hati, bukti ilmiah mulai menunjukkan hubungan antara konsumsi ginseng dan pencegahan penyakit serius. Beberapa penelitian epidemiologis—baik studi kohort maupun studi kasus-kontrol—menemukan bahwa konsumsi produk ginseng secara teratur dikaitkan dengan penurunan risiko relatif terkena kanker.

Secara spesifik, studi-studi ini mengamati bahwa risiko untuk beberapa jenis kanker cenderung menurun seiring dengan meningkatnya frekuensi dan durasi konsumsi ginseng. Jenis kanker yang disebutkan termasuk kanker lambung, paru-paru, ovarium, laring, esofagus, dan pankreas.

Penting untuk ditegaskan bahwa temuan ini menunjukkan efek “pencegahan kanker non-organ-spesifik”, yang berarti ginseng mendukung ketahanan tubuh secara umum terhadap perkembangan kanker, bukan sebagai obat untuk menyembuhkan kanker yang sudah ada.

Penelitian semacam ini menjadi jembatan penting antara pengobatan tradisional yang berfokus pada keseimbangan dan pencegahan dengan pendekatan medis modern yang mencari strategi untuk mengurangi risiko penyakit kronis.

Bantuan untuk Menopause Tanpa Risiko Terapi Hormon?

Bagi banyak wanita, menopause membawa serangkaian gejala yang tidak nyaman. Penelitian menunjukkan bahwa ginseng merah dapat menjadi sekutu yang berharga. Konsumsi ginseng merah secara teratur terbukti dapat mengurangi gejala seperti hot flashes, insomnia, dan depresi, serta secara signifikan meningkatkan skor pada skala evaluasi menopause yang diakui secara internasional.

Namun, temuan yang paling signifikan adalah bagaimana ginseng merah mencapai ini. Studi menunjukkan bahwa ginseng merah memberikan manfaat tersebut tanpa memengaruhi kadar hormon seperti estrogen dalam tubuh.

Karena tidak memengaruhi kadar hormon, ginseng merah menawarkan manfaat untuk meredakan gejala menopause tanpa membawa risiko yang terkait dengan terapi penggantian hormon (HRT), seperti peningkatan risiko kanker payudara.

Implikasi dari temuan ini sangat besar. Ini menunjukkan bahwa ginseng merah dapat menjadi pilihan pendukung yang menarik bagi wanita yang mencari bantuan alami untuk gejala menopause. Selain itu, dengan membantu meningkatkan kesehatan jantung—yang sering kali menjadi perhatian setelah menopause akibat penurunan estrogen—ginseng menawarkan pendekatan yang komprehensif untuk kesehatan wanita pasca-menopause.

Kesimpulan: Warisan Kuno, Wawasan Modern

Jelas bahwa Panax ginseng jauh lebih kompleks dan berpotensi daripada sekadar perannya sebagai peningkat energi. Dari namanya yang berarti “penyembuh segalanya” hingga interaksinya yang rumit dengan bakteri usus kita, akar ini terus memukau para peneliti.

Sains modern tidak menyanggah, melainkan memperjelas dan memvalidasi banyak kegunaan kuno dari herbal ini dengan cara-cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Penemuan ini membuktikan bahwa di dalam kearifan tradisional, sering kali tersembunyi kebenaran biologis yang mendalam.

Dengan terungkapnya mekanisme-mekanisme ini, peran apa yang menurut Anda akan dimainkan oleh obat-obatan kuno seperti ginseng dalam dunia kesehatan di masa depan? Produk Airamor mengadung bahan Panax Gingseng Radix yang diformulasikan secara khusus.

Jurnal : Jurnal-panax-ginseng.pdf

Referensi :

Geumsan, Chungnam, Korea, Korean Society
of Ginseng.
Ernst, E.(2002). Adulteration of Chinese herbal
medicines with synthetic drugs: a systematic
review. J Intern Med. 252:107‐113.
Hasegawa, H.(2004). Proof of the mysterious efficacy
of ginseng: basic and clinical trials: metabolic
activation of ginsenoside: deglycosylation by
intestinal bacteria and esterification with fatty
acid. J Pharmacol Sci. 95:153-157.
Herrera, D. M.; Abdala, S.; Benjumea, D. and Luis J.
G. (2008). Diuretic activity of some Withania
aristata Ait.Fraction. Journal of
Ethnopharmacology. 117:496‐499.
Hofseth, L. J. and Wargovich, M. J. (2007).
Inflammation, cancer, andtargets of ginseng. J
Nutr. 137:183S‐185S.
Huang, K. C. (1999). The Pharmacology of Chinese
Herbs CRC Press, Boca Raton, FL.
Hui, H.; Tang, G. and Go, V. L. W. (2009).
Hypoglycemic Herbs and their Action
Mechanisms. Chin Med. 4:1-11.
Hussain, S. H. and Al-Fartosi, K. G. (2015).
Physiological study for the effect of red
ginseng (Panax ginseng) suspension roots in
the normal and diabetic male rats (Rattus
norvegicus). Thesis, Universty of Thi-qar, Iraq.
Jia, L. and Zhao, Y. (2009). Current Evaluation of the
Millennium Phytomedicine- Ginseng (I):
Etymology, Pharmacognosy, Phytochemistry,
Market and Regulations. Curr. Med.
Chem.16:2475-2484.
Kamangar, F.; Gao, Y. T.; Shu, X. O.; Kahkeshani, K.;
Ji, B.T. and Yang, G. (2007). Ginseng intake
and gastric cancer risk in the Shanghai
Women’s Health Study cohort. Cancer
Epidemiol Biomarkers Prev. 16: 629–30.
Kikuchi, Y.; Tode, T.; Hirata, J.; Nakata, H. and Kita,
T.(2003). Clinical usefulness of Korean Red
ginseng in postmenopausal women with severe
climacteric disturbance. J Ginseng Res. 27:98-
102.
Kim, H. S.; Yoon, Y. J.; Lee, J. M.; Lee, C. H.; Jang,
J. B.; Lee, K. S. Cho, J. H.(2009). A Clinical
Study on the effect of Red ginseng for
postmenopausal hot flushes. J Oriental
Obstetrics Gynecol. 22:132-9.
Kim, J. Y.; Park, J. Y.; Kang, H. J.; Kim, O. Y. and
Lee, J. H. Beneficial effects of Korean Red
ginseng on lymphocyte DNA damage,

antioxidant enzyme activity, and LDL
oxidation in healthy participants: a
randomized,double-blind,placebocontrolled
trial. Nut J 2012;11:47-58.
Kim, Y. K.; Gua, Q. and Packer, L.(2002). Free radical
scavenging activity of red ginseng aqueous
extracts. Toxicology. 172: 149–56.
Kim, Y. K.; Guo, Q. and Packer, L.(2002).
Free radical scavenging activity of Red ginseng
aqueous extracts. Toxicol. 172:149-56.
Kimura, I.; Nakashima, N.; Sugihara, Y.; Fu-jun, C.
and Kimura, M. (1999). The
antihyperglycaemic blend effect of traditional
chinese medicine byakko-kaninjin- to on
alloxan and diabetic KK-CA(y) mice.
Phytother. Res. 13: 484–488.
Lakshmi, T.; Anitha, Roy.; Geetha, R.V.(2011). Panax
Ginseng A Universal Panacea in the Herbal
Medicine with Diverse Pharmacological
Spectrum –A Review. Asian J Pharm. Clin.
Res. 4:1418.
Lee, B. M.; Lee, S. K. and Kim, H. S.(1998).
Inhibition of oxidative DNA damage, 8-OHdG,
and carbonyl contents in smokers treated with
antioxidants (vitamin E, vitamin C, b-carotene
and Red ginseng). Cancer Lett. 132:219-27.
Lee, T. K.; Johnke, R. M. and Allison, R. R. (2005).
Radioprotective potential of ginseng.
Mutagenesis. 20:237‐243.
Luo, J. Z. and Luo, L.(2009). Ginseng on
Hyperglycemia: Effects and Mechanisms. Evid
Based Complement Alternat Med. 6:423-427.
Matsuda, H.; Samukawa, K. and Kubo, M.(1991).
Anti-hepatitic activity of ginsenoside Ro.
Planta Med. 57: 52–5.
Ogita, S. and Samugawa, K.(1994). Clinical
effectiveness of Korean ginseng on patients
with climacteric disturbances. Ginseng Rev. 18:
95–7.
Oh, K. J.; Chae, M. J.; Lee, H. S.; Hong, H. D. and
Park, K.(2010). Effects of Korean Red ginseng
on sexual arousal in menopausal women:
placebo-controlled, double-blind crossover
clinical study. J Sex Med. 7:1469-77.
Radad, K.; Gille, G.; Liu, Li. and Rausch, W. D.(2006).
Use of ginseng inmedicine with emphasis on
neurodegenerativedisorders. J Pharmacol Sc.
100:175‐186.
Ranjbar, S. H.; Larijani, B. and Abdollahi, M.(2011).
Recent update on Animal and Human

Evidences of Promising Anti diabetic
Medicinal plants: a Mini-review of Targeting
New Drugs. Asian journal of Animal and
Veterinary Advances. 6:1271-1275.
Salvati, G.; Genovesi, G. and Marcellini, L.(1996).
Effects of Panax ginseng CA Meyer saponins
on male fertility. Panminerva Med. 38:249‐254.
Seely, D.; Dugoua, J. J. and Perri D. (2008). Safety and
efficacy of Panax ginseng during pregnancy
and lactation. Can J Clin Pharmacol. 15: 87-94.
Seo, S. K.; Hong , Y.; Yun, B. Y.; Chon, S. J.; Jung, Y.
S.; Park, J. H.; Cho, S. H.; Choi, Y. S. and
Lee, B. S.(2014). Antioxidative effects of
Korean Red ginseng in postmenopausal
women: a double-blind randomized controlled
trial. J Ethnopharmacol.154: 753-7.
Shin, H. J.; Kim, Y. S.; Kwak, Y. S.; Song, Y. B.;
Kim, Y. S. and Park, J. D. (2004).
Enhancement of antitumor effects of paclitaxel
(taxol) in combination with Red ginseng acidic
polysaccharide (RGAP). Planta Med. 70:1033-
8.
Sin, S.; Kim, S. Y. and Kim, S. S.(2012). Chronic
treatment with ginsenoside Rg3 induces Aktdependent senescence in human glioma cells.
Int J Oncolog. 41: 1669-74.
Suh, S. O.; Kim, J.; Boo, Y. J.; Park, J. M. and Kim,
J. (2006).Prospective study for Korean red
ginseng extract as an immune modulator
following a curative surgery in patients with
advanced colon cancer. Proceedings of the9th
International Ginseng Symposium;, Geumsan,
Chungnam, Korea, Korean Society of Ginseng.
Tripathi , A. K.; Bhoyar, P. K.; Baheti, J. R.; Biyani, D.
M.; Khalique, M. and Kothmire, M. S. (2011).
Herbal Antidiabetics: A Review. International
Journal of Research in Pharmaceutical
Sciences. 2: 30-37.
Vogler, B. K.; Pittler, M. H. and Ernst, E.(1999). The
efficacy of ginseng.A systematic review of
randomised clinicaltrials. Eur J Clin Pharmacol.
55:567‐75.
Vuksan, V.; Sievenpiper, J. L.; Xu, Z.; BeljanZdravkovic, U.; Jenkins, A. L. and Arnason, J.
T. (2002). A role for ginseng in the control of
postprandial glycemia and type 2 diabetes.
Proceedings of the 8 th International
Symposium on Ginseng; Seoul, Korea, Korean
Society of Ginseng.

Weiss, R. (1988). Herbal Medicine. Gothenburg,
Sweden: Beaconsfield Publishers LTD. 176‐
177.
WHO. (1999). Radix Ginseng, in WHO Monographs
on Selected Medicinal Plants, Geneva: World
Health Organization.168‐182.
Yang, Y.; Yang, W. S.; Yu, T.; Sung, G. H.; Park, K.
W.; Yoon, K.; Son, Y. J.; Hwang, H.; Kwak,
Y. S. and Lee, C. M. (2014). ATF2/CREB/IRF-3-targeted anti-inflammatory
activity of Korean Red ginseng water extract. J
Ethnopharm.154:218-28.
Yun, T. K. and Choi, S. Y.(1995). Preventive effect of
ginseng intake against various human cancers:
A case-control study on 1987 pairs. Cancer
Epidemiol. Biomakers Prev. 4: 401–8.
Yun, T. K.(2001). Panax ginseng-a non-organ-specific
cancer preventive? Lancet Oncol. 2:49-55.
Yun, T. K.(2003). Experimental and epidemiological
evidence on nonorgan specific cancer
preventive effect of Korean ginseng and
identification of active compounds. Mutat Res.
523-524:63-74.
Yun, T. K.; Zheng, S.; Choi, S.; Cai, S. R.; Lee, Y. S.;
Liu, X. Y.; Cho, K. J. and Park, K. Y.(2010).
Non-organspecific preventive effect of longterm administration of Korea Red ginseng
extract on incidence of human cancers. J Med
Food. 13:489-94.
Zhang, G.; Liu, A.; Zhou, Y.; San, X.; Jin, T. and Jin,
Y.(2008). Ginsenoside- Rg2 protects memory
impairment via anti-apoptosis in a rat model
with vascular dementia. J Ethnopharmacol.
115: 441–8.