Dengan bentuknya yang unik seperti untaian merica kering dan aromanya yang hangat menusuk, Cabe Jawa adalah pemandangan dan rasa yang akrab di pasar-pasar tradisional Indonesia. Bagi sebagian besar masyarakat, nama Piper retrofractum ini kita kenal sebagai salah satu bahan utama dalam ramuan jamu yang menghangatkan tubuh, atau sebagai bumbu yang memberikan sensasi pedas khas pada masakan tradisional. Selama berabad-abad, tanaman ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengobatan rakyat dan kekayaan kuliner Nusantara.
Namun, bagaimana jika bumbu yang sering kita jumpai di dapur dan dalam segelas jamu ini ternyata menyimpan rahasia untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan modern yang kompleks? Apa kata sains tentang warisan nenek moyang ini? Ternyata, penelitian ilmiah modern mulai mengungkap dan memvalidasi potensi luar biasa yang tersembunyi di dalam buah kecil memanjang ini.
Artikel ini akan membawa Anda menyelami dunia sains untuk mengungkap lima manfaat kesehatan Cabe Jawa yang paling mengejutkan dan berdampak besar, yang didukung oleh temuan-temuan riset mutakhir. Bersiaplah untuk melihat bumbu sederhana ini dari sudut pandang yang sama sekali baru.
1. Membantu Melawan Obesitas Tanpa Mengubah Pola Makan
Salah satu tantangan terbesar dalam manajemen berat badan adalah mengendalikan asupan kalori. Namun, sebuah studi dari Kim et al. (2011) menemukan fakta yang sangat menarik tentang Cabe Jawa. Dalam sebuah model penelitian pada hewan yang diberi diet tinggi lemak, pemberian ekstrak P. retrofractum secara oral terbukti secara signifikan mengurangi kenaikan berat badan.
Temuan yang paling mengejutkan adalah penurunan berat badan ini terjadi tanpa mengubah jumlah makanan yang dikonsumsi. Artinya, ekstrak ini bekerja pada level metabolisme, bukan dengan menekan nafsu makan. Lebih lanjut, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ekstrak Cabe Jawa membantu menekan peningkatan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL) dalam serum. Tidak hanya itu, ekstrak ini juga terbukti melindungi hati dari perkembangan perlemakan hati non-alkoholik dengan mengurangi penumpukan trigliserida. Hal ini menunjukkan potensinya sebagai alat bantu manajemen berat badan yang unik, yang bekerja di balik layar untuk membantu tubuh mengelola lemak dan kolesterol dengan lebih efisien sambil menjaga kesehatan hati.
2. Potensi “Anti-Aging” untuk Melindungi Kulit dari Sinar Matahari
Siapa sangka bumbu dapur yang pedas ini memiliki potensi sebagai bahan perawatan kulit canggih? Sebuah penelitian oleh Yun et al. (2018) mengungkap efek antiphotoaging dari ekstrak P. retrofractum. Photoaging adalah proses penuaan dini pada kulit yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari.
Studi tersebut menemukan bahwa ekstrak Cabe Jawa mampu melindungi sel-sel fibroblas kulit manusia dan kulit tikus tanpa bulu dari kerusakan akibat radiasi UVB. Secara spesifik, ekstrak ini terbukti dapat mencegah deformasi histologis seperti pembentukan kerutan, kerusakan matriks ekstraseluler (struktur penyangga kulit), dan timbulnya eritema (kemerahan pada kulit). Bagaimana cara kerjanya? Ekstrak ini secara cerdas meningkatkan produksi energi di dalam sel kulit (biogenesis mitokondria) sambil secara bersamaan melindungi kolagen—pondasi kekencangan kulit—dari kerusakan dan bahkan mendorong produksinya kembali. Menemukan properti pelindung kulit yang begitu maju dalam sejenis lada merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan.
3. Menunjukkan Potensi Luar Biasa dalam Riset Kanker
Dalam dunia riset onkologi, para ilmuwan terus mencari senyawa baru yang dapat melawan sel kanker secara efektif. Cabe Jawa telah menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan di bidang ini. Berbagai penelitian telah melaporkan aktivitas sitotoksik (membunuh sel) dan antiproliferasi (menghambat perkembangbiakan sel) ekstraknya terhadap berbagai jenis sel kanker, seperti sel kanker paru-paru dan sel Myeloma.
Salah satu hasil yang paling menonjol datang dari studi oleh Hasan et al. (2016). Mereka menguji sampel buah Cabe Jawa yang dikumpulkan dari Jawa Tengah dan Lampung, Indonesia. Hasilnya, ekstrak yang berasal dari Lampung menunjukkan penghambatan yang sangat signifikan terhadap sel kanker payudara (MCF-7) dengan nilai IC50 sebesar 4.35 µg/mL. Untuk memberikan konteks, nilai IC50 yang lebih rendah menunjukkan potensi yang lebih kuat. Sebagai perbandingan, obat kemoterapi standar yang digunakan sebagai kontrol, doxorubicin, memiliki nilai IC50 sebesar 58.7 µg/mL dalam penelitian yang sama. Ini menunjukkan bahwa, dalam kondisi laboratorium ini, konsentrasi ekstrak Cabe Jawa yang dibutuhkan untuk menghambat 50% sel kanker jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat doxorubicin. Hal ini menyoroti potensinya yang signifikan sebagai sumber senyawa bioaktif untuk penelitian obat kanker di masa depan.
Sangat penting untuk ditekankan bahwa ini adalah penelitian awal dan tidak boleh diartikan sebagai obat untuk kanker. Namun, hasil ini menempatkan Cabe Jawa sebagai kandidat yang sangat menjanjikan untuk penemuan dan pengembangan obat-obatan baru.
4. Pembasmi Jentik Nyamuk yang Ampuh dan Alami
Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah, tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Penelitian menunjukkan bahwa Cabe Jawa bisa menjadi alternatif alami yang sangat ampuh untuk pengendalian vektor penyakit.
Studi oleh Chansang et al. (2005) melaporkan aktivitas larvasida (pembunuh jentik) ekstrak Cabe Jawa terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus. Penelitian lebih lanjut oleh Wiwattanawanichakun et al. (2018) mengonfirmasi potensi ini dengan angka yang mengesankan. Mereka menemukan bahwa ekstrak heksana kasar dari Cabe Jawa sangat beracun bagi larva Culex quinquefasciatus dengan konsentrasi mematikan (LC50) hanya 0.9 ppm (parts per million, artinya hanya dibutuhkan kurang dari 1 bagian ekstrak dalam satu juta bagian air untuk efektif). Bahkan, senyawa piperine murni yang diisolasi dari ekstrak tersebut terbukti lebih poten, dengan nilai LC50 sebesar 0.27 ppm setelah 24 jam. Potensi luar biasa ini membuka jalan bagi pengembangan insektisida nabati yang lebih ramah lingkungan.
5. Pelindung Hati dari Kerusakan Akibat Obat
Secara tradisional, Cabe Jawa digunakan dalam ramuan Jamu sebagai “tonik” untuk menjaga kesehatan tubuh. Kini, sains modern mulai memvalidasi kebijaksanaan kuno tersebut, terutama dalam hal perlindungan organ hati (hepar).
Sebuah laporan penelitian oleh Mahaldar et al. (2019) menguji aktivitas hepatoprotektif (pelindung hati) dari tanaman ini. Dalam model penelitian pada tikus, ekstrak etanol Cabe Jawa menunjukkan perlindungan yang signifikan terhadap kerusakan hati akut yang diinduksi oleh parasetamol. Ekstrak tersebut bekerja dengan cara menurunkan enzim penanda kerusakan hati (SGPT dan SGOT) serta kadar bilirubin total dalam serum secara signifikan. Ini bukan sekadar kebetulan; ini adalah sains modern yang memberikan cetak biru biologis atas kepercayaan yang telah dipegang teguh oleh para peramu jamu selama berabad-abad, membuktikan bahwa ‘tonik’ tradisional tersebut memang bekerja untuk menjaga benteng pertahanan tubuh kita: hati.
Kesimpulan: Harta Karun Botani yang Belum Tergali Sepenuhnya
Kisah Cabe Jawa adalah kisah tentang perlindungan dan pertahanan. Di satu sisi, ia terbukti mampu melindungi organ vital seperti hati dan perisai terluar kita, kulit. Di sisi lain, ia menunjukkan potensi sebagai
Namun, seperti yang disimpulkan oleh para peneliti, komposisi kimia tanaman ini belum dipelajari secara ekstensif. Ini berarti apa yang kita ketahui saat ini mungkin hanyalah puncak dari gunung es. Jika satu bumbu dapur saja bisa menyimpan potensi sebesar ini.
Jurnal : Jurnal-Cabe-Jawa-dari-sisi-Farmasi.pdf
Referensi :
Ahn J.S., Ahn M.J., Zee O.P., Kim E.J., Lee S.G., Kim H.J., Kubo I. (1992).
Piperidine alkaloids from Piper retrofractum fruits. Phytochemistry
31(10): 3609-3612.
Bao N., Ochir S., Sun Z., Borjihan G., Yamagishi T. (2014). Occurrence of
piperidine alkaloids in Piper species collected in different areas. J Nat
Med 68(1): 211-214.
Amad S., Yuenyongsawad A., Wattanapiromsakul C. (2017). Investigation
of antitubercular and cytotoxic activities of fruit extract and isolated
compounds from Piper retrofractum Vahl. Walailak J Sci Tech 14(9):
731-739.
Banerji A., Bandyopadhyay D., Sarkar M., Siddhanta A.K., Pal S.C., Ghosh
S., Abraham K., Shoolery J.N. (1985). Structural and synthetic studies
on the retrofractamides-amide constituents of Piper retrofractum.
Phytochemistry 24(2): 279-284.
Banerji A., Sarkar M., Datta R., Sengupta P., Abraham K. (2002). Amides
from Piper brachystachyum and Piper retrofractum. Phytochemistry
59(8): 897-901.
Bodiwala H.S., Singh G., Singh R., Dey C.S., Sharma S.S., Bhutani K.K.,
Singh I.P. (2007). Antileishmanial amides and lignans from Piper
cubeba and Piper retrofractum. J Nat Med 61(4): 418-421.
Chansang U., Zahiri N.S., Bansiddhi J., Boonruad T., Thongsrirak P.,
Mingmuang J., Benjapong N., Mulla M.S. (2005). Mosquito larvicidal
activity of aqueous extracts of long pepper (Piper retrofractum Vahl)
from Thailand. J Vector Ecol 30(2): 195-200.
Chopra R.N., Nayar S.L., Chopra I.C. (1986). Glossary of Indian Medicinal
Plants. Council of Scientific and Industrial Research, New Delhi.
Chaveerach A., Mokkamul P., Sudmoon R., Tanee T. (2006). Ethnobotany
of the genus Piper (Piperaceae) in Thailand. Ethnobot Res Appl 4:
223-231.
Ekowati H., Achmad A., Prasasti E., Wasito H., Sri K., Hidayati Z., Ekasari
T. (2012). Zingiber officinale, Piper retrofractum and combination
induced apoptosis and p53 expression in Myeloma and WiDr cell
lines. Hayati J Biosci 19(3): 137-140.
Farnsworth N.R., Bunyapraphatsara N. (1992). Thai Medicinal Plants.
Recommended for Primary Health Care System. Prachadhon,
Bangkok.
Hasan A.E.Z., Suryani, Mulia K., Setiyono A., Silip J.J. (2016).
Antiproliferation activities of Indonesian java chili, Piper retrofractum
Vahl., against breast cancer cells (MCF-7). Der Pharm Lett 8(18): 141-
147.
Hao C.Y., Fan R., Qin X.W., Hu L.S., Tan L.H., Xu F., Wu, B.D. (2018).
Characterization of volatile compounds in ten Piper species cultivated
in Hainan Island, South China, Int J Food Prop 21(1): 633-644.
Hieu le D., Thang T.D., Hoi T.M., Ogunwande I.A. (2014). Chemical
composition of essential oils from four Vietnamese species of Piper
(Piperaceae). J Oleo Sci 63(3): 211-217.
Jadid N., Hidayati D., Hartanti S.R., Arraniry B.A., Rachman R.Y., Wikanta
W. (2017). Antioxidant activities of different solvent extracts of Piper
retrofractum Vahl. using DPPH assay. AIP Conference Proceedings.
Jadid N., Arraniry B.A., Hidayati D., Purwani K.I., Wikanta W., Hartanti
S.R., Rachman R.Y. (2018). Proximate composition, nutritional values
and phytochemical screening of Piper retrofractum vahl. fruits. Trop
Biomed 8(1): 37-43.
Agric. conspec. sci. Vol. 85 (2020) No. 3
202 | Wan Mohd Nuzul Hakimi Wan SALLEH, Farediah AHMAD
aCS
Kikuzaki H., Kawabata M., Ishida E., Akazawa Y., Takei Y., Nakatani N.
(1993). LC-MS analysis and structural determination of new amides
from Javanese long pepper (Piper retrofractum). Biosci Biotech
Biochem 57: 1329-1333. Kim K.J., Lee M.S., Jo K., Hwang J.K. (2011). Piperidine alkaloids from
Piper retrofractum Vahl. protect against high-fat diet-induced obesity
by regulating lipid metabolism and activating AMP-activated protein
kinase. Biochem Biophys Res Commun 411(1): 219-225.
Kubo M., Ishii R., Ishino Y., Harada K., Matsui N., Akagi M., Kato E.,
Hosoda S., Fukuyama Y. (2013). Evaluation of constituents of Piper
retrofractum fruits on neurotrophic activity. J Nat Prod 76(4): 769-
773.
Lim T.K. (2012). Edible Medicinal and Non-medicinal Plants. Vol. 1,
Springer Science & Business: Netherlands.
Luyen B.T., Tai B.H., Thao N.P., Yang S.Y., Cuong N.M., Kwon Y.I., Jang
H.D., Kim Y.H. (2014). A new phenylpropanoid and an alkylglycoside
from Piper retrofractum leaves with their antioxidant and α-glucosidase
inhibitory activity. Bioorg Med Chem Lett 24(17): 4120-4124.
Mahaldar K., Hossain A., Islam F., Islam S., Islam M.A., Shahriar M.,
Rahman M.M. (2019). Antioxidant and hepatoprotective activity of
Piper retrofractum against Paracetamol-induced hepatotoxicity in
Sprague-Dawley rat. Nat Prod Res 19: 1-7.
Muharini R., Liu Z., Lin W., Proksch P. (2015). New amides from the fruits
of Piper retrofractum. Tetrahedron Lett 56(19): 2521-2525.
Musthapa I., Gumilar G.G., Dara F. (2018). Isolation of metyhl-piperate
from n-hexane extract of fruit of cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.).
Pertanika J Trop Agric Sci 41(3): 1489-1495.
Pande A., Shukla Y.N., Srivastava R., Verma, M. (1997). 3-Methyl-5-
decanoylpyridine and amides from Piper retrofractum. Indian J Chem
Sect B 36: 377-379.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y., Sirat H.M. (2012). Chemical
compositions and antibacterial activity of the leaf and stem oils of
Piper porphyrophyllum (Lindl.) N.E.Br. Exp Clin Sci J 11: 399-406.
Salleh W.M.N.H.W., Hashim N.A., Ahmad F., Khong H.Y. (2014a).
Anticholinesterase and antityrosinase activities of ten Piper species
from Malaysia. Adv Pharm Bull 4(2): 527-531.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y. (2014b). Chemical
composition of Piper stylosum Miq. and Piper ribesioides Wall. essential
oils and their antioxidant, antimicrobial and tyrosinase inhibition
activities. Bol Latinoam Caribe Plantas Med Aromat 13(5): 488-497.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y. (2014c). Antioxidant and
anti-tyrosinase activities from Piper officinarum C.DC (Piperaceae). J
Appl Pharm Sci 4(5): 87-91.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y. (2014d). Chemical
compositions and antimicrobial activity of the essential oils of Piper
abbreviatum, P. erecticaule and P. lanatum (Piperaceae). Nat Prod
Commun 9(12): 1795-1798.
Salleh W.M.N.H.W., Kamil F., Ahmad F., Sirat H.M. (2015a). Antioxidant
and anti-inflammatory activities of essential oil and extracts of Piper
miniatum. Nat Prod Commun 10(11): 2005-2008.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y. (2015b). Chemical
constituents from Piper caninum and antibacterial activity. J Appl
Pharm Sci 5(6): 20-25.
Salleh W.M.N.H.W., Rajudin E., Ahmad F., Sirat H.M., Arbain D. (2016a).
Essential oil composition of Piper majusculum Ridl. from Indonesia. J
Mat Environ Sci 7(6): 1921-1924.
Salleh W.M.N.H.W., Ahmad F., Khong H.Y. (2016b). Essential oil
compositions and antimicrobial activity of Piper arborescens Roxb.
Marmara Pharm J 20(2): 111-115.
Salleh W.M.N.H.W., Hashim N.A., Khamis S. (2019). Chemical
constituents and lipoxygenase inhibitory activity of Piper stylosum
Miq. Bull Chem Soc Ethiopia 33(3): 587-592.
Takahashi M., Ohshiro M., Ohno S., Yonamine K., Arakaki M., Wada K.
(2017). Effects of solar- and oven-drying on physicochemical and
antioxidant characteristics of hihatsumodoki (Piper retrofractum
Vahl) fruit. J Food Process Preserv e13469.
Tang R., Zhang Y.Q., Hu D.B., Yang X.F., Yang J., San M.M., Oo T.N., Kong
Y., Wang Y.H. (2019). New amides and phenylpropanoid glucosides
from the fruits of Piper retrofractum. Nat Prod Bioprospect 9(3): 231-
241.
Wasito H., Ekowati H., Hayati F.F. (2011). In vitro antioxidant activity of
Zingiber officinale, Piper retrofractum, and their combinations. Indo J
Cancer Chemoprev 2(3): 295-298.
Wiwattanawanichakun P., Ratwatthananon A., Poonsri W., Yooboon T.,
Pluempanupat W., Piyasaengthong N., Nobsathian S., Bullangpoti
V. (2018). The possibility of using isolated alkaloid compounds and
crude extracts of Piper retrofractum (Piperaceae) as larvicidal control
agents for Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) larvae. J Med
Entomol 55(5): 1231-1236.
Yun J., Kim C., Kim M.B., Hwang J.K. (2018). Piper retrofractum
Vahl. extract, as a PPARδ and AMPK activator, suppresses UVBInduced photoaging through mitochondrial biogenesis and MMPs
inhibition in human dermal fibroblasts and hairless mice. Evid Based
Complement Alternat Med 6172954.
Yusuf M., Chowdhury J.U., Wahab M.A., Begum J. (1994). Medicinal
Plants of Bangladesh. Bangladesh Council of Scientific and Industrial
Research, Dhaka.